Tugas Silvika
Zulfian:
G01110165
Beberapa
Tanaman yang akan dibahas di bawah ini:
A.Tanaman
Sengon (Parasirianthes falcataria)
a) tanah. Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan
latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman
tanah sekitar pH 6-7.
b) Iklim. Ketinggian tempat yang optimal
untuk tanaman sengon antara 0 - 800 m dpl. Walapun demikian tanaman sengon ini
masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Sengon
termasuk jenis tanaman tropis, sehingga untuk tumbuhnya memerlukan suhu sekitar
18 ° - 27 °C.
c) Curah
Hujan. Curah
hujan mempunyai beberapa fungsi untuk tanaman, diantaranya sebagai pelarut zat
nutrisi, pembentuk gula dan pati, sarana transpor hara dalam tanaman,
pertumbuhan sel dan pembentukan enzim, dan menjaga stabilitas suhu. Tanaman
sengon membutuhkan batas curah hujan minimum yang sesuai, yaitu 15 hari hujan
dalam 4 bulan terkering, namun juga tidak terlalu basah, dan memiliki curah
hujan tahunan yang berkisar antara 2000 - 4000 mm.
d)
Kelembaban. Kelembaban
juga mempengaruhi setiap tanaman. Reaksi setiap tanaman terhadap kelembaban
tergantung pada jenis tanaman itu sendiri. Tanaman sengon membutuhkan
kelembaban sekitar 50%-75%.
e)
Hama.
Beberapa hama yang biasa menyerang bibit adalah semut, tikus rayap, dan cacing,
sedangkan yang tergolong penyakit ialah kerusakan bibit yang disebabkan oleh
cendawan.
B. Tanaman Ramin (Gonystylus bancanus)
Ramin tumbuh
pada tanah podsolik, tanah gambut, tanah aluvial dan tanah lempung berpasir
kwarsa yang terbentuk dari bahan induk endapan. Habitat Ramin mempunyai tingkat
keasaman (pH) bervariasi dari 3,6 sampai dengan 4,4.
Pohon jenis Ramin tumbuh baik di dataran rendah dengan ketinggian 0 - 100 dpl.
Curah hujan pada tanaman ini berkisar antara 1.100mm-3.300mm/tahun dan
kelembaban 74,37%-90,38% suhu yang diperlukan 25,960C-32,700C.
C. Tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba)
Jabon umumnya tumbuh pada tanah alluvial lembab di
pinggir sungai dan di daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering yang
kadang-kadang digenangi air. Selain itu dapat juga tumbuh dengan baik pada
tanah liat, tanah lempung, podsolik coklat, tanah tuf halus atau tanah lempung
berbatu yang tidak sarang. Jenis ini memerlukan iklim basah hingga kemarau
kering di dalam hutan gugur daun dengan tipe curah hujan A dan D, mulai dari
dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m dari permukaan laut.
Jabon
termasuk jenis intoleran yakni tumbuhan yang memerlukan cahaya murni alias tak
tahan ada naungan ketika tumbuhnya, suhu maksimum 32-43 C. akhir-akhir ini
tersudutkan oleh seringnya mengalami serangan penyakit, dikenal masyarakat
sebagai karat Puru atau Karat Tumor (gall rust). Jamur ini bisa
berkembang biak hanya dari 1 inang saja, yaitu tanaman sengon laut dalam
seluruh siklus hidupnya. Penyakit ini ditunjukan oleh munculnya bintil-bintil
kecil di salah satu cabang atau ranting. Serangan penyakit ini sangat mematikan,
kalau sudah ada gejala itu, maka potong segera cabang itu, kemudian kuburlah,
agar dengan itu tidak menyebar.
Kondisi Keadaan Daerah
Penanaman di Kabupaten Sambas
Kabupaten Sambas terletak di antara 1’23” LU dan 108’39” BT. Iklim Kabupaten Sambas termasuk daerah beriklim tropis dengan curah hujan bulanan rata-rata 187.348 mm dan jumlah hari hujan rata-rata 11 hari/bulan. Curah hujan yang tertinggi terjadi pada bulan September sampai dengan Januari dan curah hujan terendah antara bulan Juni sampai dengan Agustus.
Temperatur udara rata-rata
berkisar antara 22,9°C. Sampai 31,05 °C. Suhu udara terendah 21,2 °C
terjadi pada bulan Agustus dan yang tertinggi 33,0 °C pada bulan Juli. Kelembaban udara
relatif 81-90%, tekanan udara 1,001-1,01/Hm Bar, kecepatan angin 155 – 173
km/hari, elipasi sinar matahari 50.73%, penguapan (evaporasi ) harian antara
4,2-5,9 Hm dan evapotranspirasi bulanan 134,7 – 171,4 mm.
Jenis tanah di daerah datar meliputi
jenis Organosol, Aluvial dan Podsolik Merah Kuning (PMK) sedangkan di daerah
berbukit dan bergunung meliputi jenis tanah Latosol dan Podsolik Merah Kuning
(PMK), Ph tanah yang terdapat di daerah Kabupaten Sambas berkisar antara 4-7.
Wilayah Kota Sambas berupa dataran
pantai / aluvial sungai yang hampir tanpa gelombang, sangat datar dan landai.
Kota ini berada pada ketinggian 7,2 – 9,8 meter di atas permukaan laut dengan
kemiringan lahan hanya 0 – 2 % saja.
Titik tertinggi berada di kawasan
bagian Utara di wilayah Desa Senyawan dengan ketinggian 9,8 meter dpl sedangkan
titik terendah berada di hilir Sungai Sambas Kecil di wilayah Desa Saing
Rambi.
Pola topografi Kota Sambas dibentuk
oleh pola aliran tiga sungai penting yaitu Sungai Sambas Besar di Utara, Sungai
Sambas Kecil di tengah wilayah dan Sungai Teberuh yang merupakan anak sungai
Sambas Kecil bermuara tepat di kawasan Keraton Sambas. Lahan umumnya
miring ke arah badan sungai-sungai tersebut.
Kondisi
Lingkungan Jabon, Sengon dan Ramin di
Daerah Kabupaten Sambas
Spesies Tanaman
|
Curah hujan musiman
|
Musim kering terpendek
|
Suhu maksimal pd bulan kering
|
Topografi yang sesuai
|
Kondisi tanah yg sesuai
|
Tidak terdapat hama/penyakit
|
Sengon (Parasirianthes
falcataria)
|
-
|
-
|
-
|
-
|
V
|
-
|
Ramin
(Gonystylus bancanus)
|
V
|
V
|
V
|
V
|
V
|
-
|
Jabon
(Anthocephalus cadamba)
|
V
|
-
|
-
|
-
|
V
|
-
|
Kesimpulan Penanaman
Dari
data tersebut dapat kita simpulkan bahwa ada beberapa tanaman yang tidak sesuai
dan sesuai ditanam di daerah Kabupaten Sambas berikut pembahasannya:
a. Sengon (Parasirianthes
falcataria) dan Jabon (Anthocephalus cadamba)
Dari data tersebut kita tahu bahwa tanaman
tersebut tidak sesuai ditanam pada daerah Sambas, apabila dilakukan penanaman
perlu dilakukan beberapa proses dan perlu dana yang cukup besar, dan juga
memerlukan penanganan khusus dan apabila dilakukan penanaman tidak dilakukan
atau tidak melihat kondisi lingkungan maka yang akan terjadi pada tanaman
tersebut pertumbuhannya tidak baik, akan terserang hama, mudah terserang
penyakit dan banyak lagi hal-hal yang akan terjadi apabila dilakukan penanaman.
b. Ramin (Gonystylus bancanus)
Dapat
disimpulkan bahwa pada tanaman ini sangat sesuai ditanam pada daerah ini. Sehingga
pada daerah ini mampu memproduksi atau dapat dilakukan penanaman secara besar-besaran
dan juga tidak banyak melakukan proses penyesuaian sehingga dengan mudah proses
penanaman dan tidak membutuhkan penaganan secara intensif. Dalam kegiatan
penanaman ini kita hanya memperhatikan kualitas bibit yang tahan terhadap hama
dan penyakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar